Pages

Selamat Datang Di Blog Desa Bandung, Kecamatan Konang, Kabupaten Bangkalan
 

Senin, 22 Januari 2018

Sejarah Desa

0 komentar

ASAL-USUL DESA BANDUNG

Awal mula cerita, terdapat seorang putra bernama Muhammad keturunan dari Kiai Lette. Muhammad mempunyai sebutan ‘Bhindhereh’ yang dalam Bahasa Madura berarti. Sementara kelahiran dan wafatnya Bhintdhereh Muhammad tidak diketahui. Beliau adalah orang Madura asli yang mempunyai istri (tidak diketahui namanya). Muhammad sangat berpengaruh dan disegani oleh masyarakat di desa yang ditinggalinya. Muhammad mempunyai banyak anak (tidak diketahui nama-namanya). Sehingga dia mempunyai kebiasaan menggendong anak-anaknya di depan dan di belakang. Istilah menggendong dalam Bahasa Madura ialah ‘Abhen-Embhen dan Adhung-gendhung’. Dua istilah tersebut disingkat  menjadi ‘Bhendung’. Apabila diterjemahka dalam Bahasa Imdonesia adalah ‘Bandung’. Di desa Bandung ini terdapat 4 dusun yang terbagi atas dusun Pangloros, dusun Tormas, dusun Kerasaan, dan dusun Galisan.

Asal-usul Dusun Pangloros

Dusun Pangloros terletak di desa Bandung. Menurut cerita setempat, terdapat perempatan jalan yang lurus. Masyarakat setempat merasa sangat mudah atau gampang untuk menemukan jalan tersebut. Sehingga terdapat dua nama yang diangkat menjadi nama dusun dari cerita tersebut ialah ’Gempang dan Loros’. Pada akhirnya menjadi ‘Pangloros’.

Asal-usul Dusun Tormas

Tormas adalah kependekan dari ‘Toros (Teras) dan Emas’. Pada zaman dahulu, terdapat seorang tokoh masyarakat (tidak diketahui namanya). Beliau mempunyai sifat jujur, dan taat beribadah. Beliau membangun rumah dan musholla dengan teras dan peralatan yang dimiliki terbuat dari emas. Kilauan emas tersebut terlihat hingga ke desa sebelah pada malam hari. Akan tetapi emas yang dimiliki tidak dapat dilihat oleh orang biasa. Hanya orang-orang yang memiliki kelebihan dapat melihat keistimewaan yang dimiliki oleh beliau.

Asal-usul Dusun Kerasaan

Menurut cerita setempat, di dusun tersebut mempunyai suatu tempat yang indah yaitu air terjun. Air terjun tersebut hanya ada pada saat musim hujan. Bunyi gemericik air yang didengar oleh warga setempat berbeda di malam hari. Bunyi air tersebut diistilahkan dalam Bahasa Madura ialah ‘Kerasaan’. 

0 komentar:

Posting Komentar

 
Desa Bandung © 2018