PEMBUATAN KEBUN SAYUR (HIDROPONIK)





Desa Bandung merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Konang, Kabupaten Bangkalan yang berbatasan dengan Kabupaten Sampang. Desa tersebut terbagi atas empat dusun yakni dusun Krasaan, Pangloros, Galisan dan Tormas. Mayoritas penduduk desa ini bermata pencaharian sebagai petani dikarenakan letaknya yang berada di dataran tinggi. Pada umumnya, lahan dataran tinggi sangat mengunggulkan tanaman sayur-sayuran namun di desa Bandung sendiri mengandalkan tanaman padi dan jagung dikarenakan iklim yang lebih dominan pada musim kemarau dan kondisi tanah yang sangat miskin hara. Sistem pertanian yang diandalkan adalah sistem tadah hujan dikarenakan sumber air yang sulit ditemui untuk sistem perairan pertanian.
Untuk tipe tanah yang dimiliki desa Bandung pun tergolong pada tanah grumusol. Tanah grumusol merupakan tanah miskin hara yang terbentuk dari batuan induk kapur yang bersifat basa sehingga tidak ada aktivitas organik di dalamnya. Kadar kapur yang tinggi pada tipe tanah tersebut dapat menjadikannya racun bagi tanaman. Karakteristik tanahnya yang bersifat lempung yaitu sedikit keras, mudah dibentuk dan mudah hancur atau pecah. Untuk tipe tanah di setiap horizonnya akan mengalami perbedaan. Untuk horizon A hingga B dapat ditemui lapisan tanah lempung berliat dengan ukuran ≤ 2 μm dan horizon tanah selanjutnya dapat ditemui lapisan  tanah lempung berpasir dengan tekstur butiran lebih dari 50 μm.
Karena sifatnya diatas, para petani mengeluh untuk setiap musim yang dialami. Di musim penghujan, tanah yang diolah akan sangat liat dan kurang seimbang antar menyimpn dan melepas air yang ada. Sedangkan pada musim kemarau, tanah akan sangat kering bahkan sampai pecah. Untuk kondisi desa Bandung ini, dapat diketahui bahwa musim kemaraunya sangat panjang dan sistem pengairannya juga sangat minim. Dengan masalah diatas, maka dapat diberikan solusi mengalihkan sistem tanam sebelumnya menjadi sistem tanam hidroponik vertikal dengan memanfaatkan barang-barang bekas.


A. Alat dan Bahan
1. AB-Mix (nutrisi) dan air
2. Rockwool
3. Kain flanel
4. Netpot
5. Benih tanaman (sayuran daun seperti sawi pakchoy, kangkung dan bayam)
6. Botol plastik besar
7. Martil dan kawat/paku
8. Bambu atau kayu
9. Botol bersih
10. Wadah semai
11. Gergaji mini
12. Penggaris

B. Prosedur kerja
1. Benih sayuran direndam dalam air panas suam-suam kuku selama satu malam untuk memecah dormansi benih.
2. Rockwool digunakan sebagai media tanam pengganti tanah dipotong menggunakan gergaji mini menyesuaikan ukuran dari diameter netpot dimana ketebalannya berkisar 2-2,5 centimeter lalu dibasahi dengan air menggenang di wadaha dan ditanamkan benih yang telah direndam sebelumnya.
3. Selanjutnya, kain flanel dipotong dengan ukuran 1,5-2 cm dan untuk satu netpot akan digunakan 4 potongan kain flanel.
4. Benih yang telah disemai ditunggu hingga bertunas (± 1 minggu) dan apabila sudah bertunas, rockwool ditaruh ke netpot.
5. Botol plastik sebelumnya diberikan dua lubang sesuai ukuran netpot dengan jarak 15-20 cm antar kedua lubang.
6. Sebagai nutrisi, maka dilarutkan pula AB-Mix sesuai prosedur yang tertera pada kemasan pembelian. Nutrisi dituangkan pada botol yang telah dilubangi.
7. Netpot ditempatkan pada botol dan tanaman akan berkembang. Untuk memastikan tanaman mendapatkan nutrisi yang cukup maka larutan AB-Mix ditambah kembali apabila larutan sudah mencapai 1/3 ujung kain flanel.
8. Jangan lupa untuk memperhatikan permukaan dalam dari botol plastik untuk menghindari lumut dan gangguan lainnya. Selanjutnya tanaman akan berkembang dan siap dipanen dalam jangka waktu 25-35 hari setelah tanam.

Posting Komentar

0 Komentar